Tarian adat bugis
Nama kelompok:
-vebrianto
-fisri
-nelan
-roro aulia
-hairul
Tari kipas pakarena
Tari Kipas Pakarena adalah tarian tradisional Bugis-Makassar dari Sulawesi Selatan, tepatnya dari Gowa. Tarian ini menampilkan gerakan penari perempuan yang lembut dan anggun dengan menggunakan kipas sebagai properti utama, dan merupakan simbol kesopanan, kesetiaan, serta rasa hormat. Dulunya, tarian ini berfungsi sebagai ritual adat yang berkaitan dengan cerita turunnyamakhluk khayangan ke bumi, namun kini juga sering ditampilkan sebagai hiburan atau acara penyambutan tamu.
Makna Tari Kipas Pakarena adalah simbol kehidupan yang harmonis, hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta, serta mencerminkan sifat lemah lembut perempuan Makassar. Tarian ini menggunakan gerakan yang menggambarkan siklus hidup, tantangan, dan dinamika kehidupan, serta sering kali menjadi bagian dari upacara adat seperti rasa syukur atas hasil panen.
Jumlah penari Tari Kipas Pakarena umumnya adalah 5 hingga 7 orang, meskipun terkadang bisa ada variasi lain seperti 4 penari atau bahkan hingga 10 orang. Tarian ini biasanya dilakukan oleh penari perempuan dan ditarikan dengan iringan musik tradisional.
- Jumlah penari: Berdasarkan beberapa sumber, jumlah penari Tari Kipas Pakarena adalah 5 sampai 7 orang penari perempuan.
- Variasi jumlah: Ada juga sumber yang menyebutkan jumlah penari 4 orang atau hingga 10 orang.
- Pengiring musik: Tarian ini diiringi oleh musik tradisional seperti Gandrang dan Puik-puik.
Tari Kipas Pakarena berasal dari Gowa, Sulawesi Selatan, dan awalnya merupakan tarian ritual pada masa Kerajaan Gowa. Tarian ini memiliki dua legenda utama: legenda tentang perpisahan antara penghuni langit (boting langi) dan bumi (lino) yang mengajarkan kehidupan, dan legenda tentang kedatangan putri kayangan untuk menyatukan Gowa. Berasal dari kata "karena" (bermain) dan "pa" (pelaku), Pakarena diyakini sebagai tarian yang mengekspresikan rasa syukur dan kelembutan, serta melambangkan siklus kehidupan.
Ciri khas Tari Pakarena meliputi gerakan
yang lemah lembut dan anggun, menggunakan
properti kipas di setiap pementasan, serta
diiringi musik ritmis yang dimainkan oleh alat
musik seperti gendang dan pui-pui. Gerakan
yang dilakukan tidak pernah mengangkat kaki
dari lantai melainkan bergeser secara
perlahan,
dan mata penari biasanya menunduk dengan
sopan. Tarian ini juga memiliki makna
mendalam yang mencerminkan sifat
perempuan Bugis-Makassar dan siklus
kehidupan.
Comments
Post a Comment